Game horror Jepang pasti selalu identik Bersama hal-hal mistis yang tidak lepas Di berbagai macam mitos ataupun mitologi Di Negeri Sakura tersebut. Apalagi kita sering melihat game ber-genre horror asal Jepang sering Memperkenalkan fokus cerita Ke karakter wanita, baik itu Protagonist maupun hantu yang Memiliki rasa balas dendam yang kuat.
Ternyata ada alasan tersendiri kenapa developer Jepang sering membuat game horror mereka seperti itu. Apa alasannya, ya?
Alasan Game Horror Jepang Sering Fokus Ke Karakter Wanita
Di interview eksklusif Dengeki Online bersama Bersama Motoi Okamoto (Producer Silent Hill Series) dan Makoto Shibata (Creator Fatal Frame Series) Di rangka merayakan kolaborasi Di Silent Hill f dan Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake.
Ada banyak pertanyaan dan informasi Memikat diungkap Bersama mereka, terlebih soal ciri khas bagaimana game horror Jepang sering Berorientasi Di karakter wanita. Hal ini berkaitan Bersama penggunaan setting zaman yang dihadirkan Di game, seperti contohnya game yang mereka buat Membahas zaman Showa (1926-1989).
Setting Cerita, Mitologi, dan Sejarah Lokal

Makoto Shibata menjelaskan bagaimana game Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake sengaja Membahas setting cerita Disekitar tahun 1980-an Ke Pada Sebelumnya adanya Telepon Genggam.
Shibata berpendapat Di sudut pandang orang modern, dia merasa Membahas latar game-nya Sebelumnya era Telepon Genggam Memiliki kemiripan Bersama horror bertemakan gothic. Maksud dia adalah kisah horror Jepang yang memanfaatkan suasana masa lampau, Kearifan Lokal, dan juga lingkungan yang Memiliki aura misterius.
Sambil Itu Motoi Okamoto menjelaskan game Silent Hill f Membahas setting cerita Disekitar tahun 1960-an dimana kepercayaan Di hal-hal ghaib, legenda supernatural, dan cerita rakyat masih menjadi Pada penting Ke kehidupan Kelompok.
Dia juga menjelaskan bagaimana Penulis Cerita Silent Hill f, yaitu Ryukishi07 mengusulkan tema utama cerita game tersebut Berorientasi Di Kearifan Lokal pernikahan Di sudut pandang wanita Ke Jepang Di zaman itu. Di awalnya Okamoto terkejut Bersama ide seperti itu, Tetapi dia melihat potensi penggunaan latar masa lalu ketika pernikahan yang diatur Bersama keluarga Di Pada itu masih umum dilakukan Ke Jepang.
Apalagi Di periode zaman itu bertepatan Bersama berkembangnya sebuah gerakan Untuk memperjuangkan hak-hak sosial perempuan Ke Jepang. Menurut Okamoto, Situasi Kelompok yang Lagi Merasakan perubahan tersebut digagaskan Bersama Ryukishi07 sesuai Bersama tema cerita Di Silent Hill f.

Motoi Okamoto dan Makoto Shibata menjelaskan salah satu Nilai utama mereka Memperkenalkan setting cerita seperti itu adalah Menyoroti hubungan penindasan Di perempuan dan kemunculan hantu pendendam yang Merasakan penindasan Sebelumnya mati.
Shibata menjelaskan Kendati secara fisik terlihat lemah, tapi mereka (hantu perempuan) Memiliki semacam kekuatan supernatural yang membuatnya terasa mengerikan.
Okamoto menambahkan Kearifan Lokal cerita horror Jepang yang menggambarkan pembungkaman Di perempuan yang dirugikan Di Kelompok dimana Di Pada itu didominasi laki-laki. Menurutnya perempuan yang telah menjadi hantu Memiliki kekuatan balas dendam yang kuat Sesudah mereka mati.
Makoto Shibata mengatakan game Fatal Frame mengharuskan Player mempelajari kisah para hantu tersebut, memahami latar Di, dan mendekati mereka Sebelumnya akhirnya bisa menenangkan para arwah penuh balas dendam tersebut. Karena Itu cara pendekatan seperti itu berbeda Di hanya sekadar mengalahkan musuh secara fisik saja.
Hal seperti ini tidak bisa dilakukan ketika Memiliki Protagonist utama laki-laki Sebab Berpotensi Untuk mengarahkan game Di menaklukkan atau mengalahkan hantu tersebut. Sebab itulah Fatal Frame terus konsisten menggunakan Protagonist utamanya seorang perempuan yang sering Berusaha Mengatasi situasi serupa Bersama para hantu yang mereka temui.
Sambil Itu Motoi Okamoto menyinggung soal Yotsuya Kaidan dimana salah satu cerita hantu paling terkenal Ke Jepang Memperkenalkan karakter Oiwa sebagai sosok perempuan yang Merasakan ketidakadilan. Menurutnya cerita tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana penderitaan dan kebencian seseorang bisa terus bertahan, Malahan Sesudah kematian.
Karenanya, Okamoto berpendapat gagasan tentang kekuatan balas dendam perempuan yang dibungkam Di Kelompok patriarkal merupakan Pada Di Kearifan Lokal horror Ke Jepang.
Itulah informasi mengenai alasan game horror Jepang sering Berorientasi Di karakter wanita menurut sudut pandang developer Silent Hill dan Fatal Frame. Bagaimana menurut kalian Bersama informasi ini?
Baca juga informasi Memikat Gamebrott lainnya Yang Berhubungan Bersama Horror atau artikel lainnya Di Muhammad Faisal. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected].
Artikel ini disadur –> Gamebrott.com Indonesia: Game Horror Jepang Sering Fokus Ke Karakter Wanita, Ternyata Ini Alasannya!











